Untitled Document
UMBI GARUT SEBAGAI SUMBER PANGAN ALTERNATIF YANG PATUT DIKEMBANGKAN

Diupdate: Selasa, 27 Januari 2015


Produk Olahan Emping Garut

Dominasi beras sebagai makanan pokok masyarakat membuat ketahanan pangan menjadi sangat riskan. Bayangkan, jika terja digejolak produksi beras, maka akan berdampak buruk bagi Indonesia. Padahal sumber karbohidrat di negeri ini sangat banyak, terutama jenis umbi-umbian.

Jika dilihat dari nilai Pola Pangan Harapan (PPH) yang menjadi salah satu standar pangan yang beragam, bergizi dan seimbang, maka PPH masyarakat Indonesia untuk kelompok padi-padian mencapai 390 gram/hari/kapita. Padahal standarnya hanya 270 gram/hari/kapita. Artinya, pola pangan untuk kelompok padi-padian harus diturunkan dengan mengkonsumsi sumber karbohidrat lainnya. Salah satunya yang cukup potensial sebagai pangan alternatif adalah umbi garut sebagai sumber pati (starch). Pati garut mempunyai karakteristik mudah dicerna. Tanaman garut memiliki toleransi terhadap naungan hingga 50% tanpa mengurangi produksi. Meski daratan rendah lebih disukai tanaman ini, namun garut tetap dapat dibudidayakan sampai ketinggian 1000 meter di atas permukaan laut.


Umbi Garut (Arrow-Root)

Tanaman garut merupakan terna (tumbuhan yang batangnya lunak karena tidak membentuk kayu) tegak, berakar dangkal, dengan rimpang yang dapat menembus tanah. Rimpang berbentuk silinder, berdaging, berwarna putih atau kemerahan. Umumnya garut ditanam pada ladang yang tidak diusahakan petani di pinggir hutan. Budidaya garut yang cukup intensif dilakukan petani di Jawa Tengah dan DI Yogyakarta.

Tanaman dengan nama latin Marantha arundinaceae L. ini cukup dikenal di Indonesia. Tanaman ini dapat dijumpai diberbagai daerah seperti pulau Jawa, Maluku, dan Sulawesi. Nama local garut cukup beragam, di JawaTimur, Jawa Tengah dan Jawa Barat dikenal dengan “garut”, di Madura “selarut atau laru”, di Ternate “Huda Sula”, dan di Gorontalo “Labia Walanta”.

Kandungan gizi garut cukup lengkap. Tiap 100 gram umbi garut mengandung air 69,0-72,0%, pati 19,4-21,7%, protein kasar 1,0-2,2%, lemak 0,1% serat kasar 0,6-1,3%, dan abu 1,3-4,0%. Kandungan karbohidrat dalam bentuk pati (starch) yang cukup tinggi dapat menjadi sumber karbohidrat alternatif. Pati garut (dari jenis yang ditanam di Indonesia) mudah dicerna sehingga dapat diformulasikan untuk pangan yang dapat dikonsumsi oleh manula maupun balita. Umbi garut dapat diproses menjadi makanan ringan maupun produk setengah jadi berupa tepung pati. Emping garut merupakan salah satu jenis makanan ringan yang dapat dibuat dari umbi garut terutama dari bagian tengah umbinya. Bagian ujung-ujungnya untuk diekstrak patinya, walaupun seluruh bagian umbi bisa digunakan untuk emping atau untuk ekstraksi patinya, tergantung situasi pasar yang membutuhkannya. Emping garut banyak diproduksi di kabupaten Sragen dan KulonProgo. Jika emping umumnya dibuat dari melinjo dapat menyebabkan asam urat. Tapi emping garut tidak mengandung purin, sehingga aman bagi yang berpenyakit asam urat.

Produk olahan setengah jadi lainnya adalah pati. Garut memiliki ukuran granula pati yang halus, indeks glikemik yang rendah serta mengandung pati resisten sehingga dapatmenjadi bahan pangan fungsional yang bermanfaat bagi kesehatan.

Dengan ukuran granula yang halus, pati garut cocok untuk formulasi makanan pendamping ASI (MP-ASI), serta diet untuk orang sakit. Garut juga memiliki indeks glikemik rendah (IG Rendah). IG adalah ukuran kenaikan kadar gula darah setelah seseorang mengkonsumsi suatu bahan pangan.

Pemanfaatan tepung pati maupun bahkan tepung garut di antaranya sebagai bahan baku pembuatan kue, bahan pengisi nugget, prebiotic pembuatan yoghurt, campuran roti tawar, campuran pembuatan beras analog, dan masih banyak produk olahan lainnya. Dengan berbagai manfaat yang dimilikinya, garut dapat menjadi sumber karbohidrat alternatif yang memiliki banyak keunggulan.


Kepala BB Pascapanen Pertanian, Badan Litbang Pertanian, Ir. Rudy Tjahjohutomo, MT.

Kepala Balai Besar Litbang Pascapanen Pertanian (BB-Pascapanen) Ir.Rudy Tjahjohutomo ,MT, mengakui, banyak yang menilai bahan pangan lokal, termasuk umbi-umbian sebagai pangan inferior. Sebab, pangan lokal tersebut diolah secara tradisional, kurang sehat dan terkesan kampungan. Padahal menurut Ir. Rudy Tjahjohutomo, MT., “di dalam pangan lokal tersebut tersimpan khasiat yang dahsyat dan aman dikonsumsi siapa pun. Karena itu pangan local layak menjadi trend gaya hidup masyarakat Indonesia. Banyak hasil penelitian yang menyebutkan khasiat pangan local untuk kesehatan. Jadi sangat layak pangan local untuk trend gaya hidup sehat”, tandasnya.

Sebagai salah satu kekayaan alam dan banyak ditanam di lingkungan masyarakat Indonesia potensi pengembangan pangan local sangat besar. Meski selama ini produk olahan pangan local tersebut dibuat sekala industri rumah tangga, tapi dengan sentuhan teknologi dapat bersaing dan layak ekspor.

Menurut Ir. Rudy Tjahjohutomo, MT., selama ini Indonesia mengimpor tepung terigu berbahan baku gandum sangat besar mencapai 7 juta ton per tahun. Bahkan separuhnya diduga tidak sehat. Dengan pengembangan tepung umbi-umbian lokal, 50% dari tepung terigu itu bias diganti dengan tepung umbi-umbian lokal. ”Ini merupakan peluang usaha yang menguntungkan, apalagi teknologi pembuatan tepung umbi-umbian kita sudah punya,” ujarnya.

Ditulis Oleh: Elmi Kamsiati
Sumber : Sinar Tani Edisi 14-20 Januari 2015

LINK-LINK

VISITOR COUNTER
Online : 2 Users
Total Hits : 112771 Hits
Hari Ini : 95
Kemarin : 351
Bulan Ini : 8368
Tahun Ini : 8368
Total : 106452