Untitled Document
MENDONGKRAK DAYA SAING INDUSTRI PANGAN

Download Artikel


Kepala Balai Besar Litbang Pascapanen Pertanian Ir. Rudy Tjahjohutomo, MT

Judul berita di atas merupakan judul artikel di Majalah Gatra Edisi Khusus Hari Kemerdekaan RI ke 69 yang terbit 14 Agustus 2014.


Artikel tersebut merupakan hasil liputan dan wawancara Gatra dengan Ir. Rudy Tjahjohutomo, MT, Kepala Balai Besar Litbang Pascapanen Pertanian (BBPascapanen), Badan Litbang Pertanian, pada awal bulan Agustus 2014 di Kantor BBPascapanen, Kampus Penelitian Pertanian Cimanggu, Jl. Tentara Pelajar 12, Bogor. Artikel tersebut membahas antara lain tentang penerapan nanoteknologi di bidang pangan dan pertanian yang dapat meningkatkan daya saing agroindustri nasional dan khususnya industri pangan. Balai Besar Litbang Pascapanen Pertanian sebagai salah satu institusi litbang milik Badan Litbang Pertanian, Kementerian Pertanian, sejak 2012 telah merintis penelitian dan pengembangan nanoteknologi di bidang pangan dan pertanian tersebut. Dukungan Badan Litbang Pertanian, Kementerian Pertanian diwujudkan dalam pendanaan program litbang nanoteknologi dan pembangunan Laboratorium Nanoteknologi di areal Kampus Penelitian Pertanian Cimanggu, Bogor. Gedung Laboratorium Nanoteknologi tersebut telah rampung dibangun pada Juli 2014 dan telah dilengkapi dengan peralatan mutakhir yang didatangkan dari Jepang, Jerman, Inggris, dan Amerika Serikat. Beberapa peralatan yang dimiliki laboratorium ini antara lain: High Preasure Homogenizer, Ultra Fine Grinder, Nano Milling, Planetary Ball Milling, Transmision Electron Microscope (TEM),Scanning Electron Microscope (SEM), Particle Size Analyzer, X-Ray Diffractometer dan peralatan-peralatan lainnya yang relevan.

Teknologi nano pada abad ini menjadi investasi penting untuk menjawab tantangan pertanian dan pangan masa depan. Sifatnya interdisiplin yang mencakup berbagai bidang keilmuan, seperti fisika, kimia, biologi, ilmu pengetahuan bahan, dan perekayasaan. Teknologinya dapat diterapkan di banyak aspek. Teknologi ini berpeluang menjawab semua tanganan pertanian masa depan ketika jumlah petani berkurang, pencemaran dan iklim tidak menentu padahal produksi pangan dan pertanian harus terus bertambah dengan akan terus meningkatnya populasi penduduk.

Hasil analisis yang dilakukan Kementan menyimpulkan bahwa penerapan nanoteknologi dapat meningkatkan daya saing 10 agroindustri nasional (pembibitan tanaman, pembibitan hewan, industri pupuk, industri pestisida, alat dan mesin pertanian, pakan ternak, obat hewan, pangan, obat herbal, serta kemasan pangan).

Badan Litbang Pertanian (Balitbangtan) telah menyusun Roadmap Konsorsium Nasional Riset Teknologi Nano. Pada tahap awal mengembangkan nanofertilizer. Karena idealnya pemupukan tidak berlebihan, tetapi juga tidak kurang, maka efisiensi pemupukan yang akan jadi perhatian saat itu. Partikel nano yang kecil tentu membuat pupuk mudah diserap. Menjadikan unsur hara pupuk presisi dan efektif. Hitung-hitungan Balitbangtan, penggunaan pupuk berteknologi nano mampu mengurangi penggunaan pupuk hingga lebih dari 50%. Misalnya, 1 hektar lahan yang tadinya butuh 250 kg pupuk bisa berkurang hingga 100kg. Akibatnya biaya operasional dapat dikurangi.

Penelitian teknologi nano di BBPascapanen dibagi menjadi empat sub-program: Nanoseed (Pembenihan), Nanofertilizer (Pemupukan), Nanopesticide (pestisida), dan Nanopackaging (Pengemasan produk pangan/pertanian). Salah satu contoh produk akan dikembangkan adalah Coating (pelapisan) pada benih sawit. Benih yang satu ini dikenal cepat rusak. Jika di-coating menggunakan teknologi nano, umurnya menjadi lebih tahan lama. Atau coating pada buah mangga. Mangga kupas yang dilapisi bisa tahan hingga 2 bulan tanpa kehilangan kualitasnya.

Dalam 2 tahun terakhir ini, para peneliti di Lab. Nanoteknologi tersebut berkutat merumuskan formula yang tepat untuk membuat formulasi dan produk yang diinginkan.”Penelitian itu membutuhkan banyak perlakuan dan butuh waktu yang lama sampai mendapatkan formulasi dan produk yang teruji. Hitungannya bisa sampai berbulan-bulan,” kata salah satu peneliti pada lab teknologi nano Dr. Sri Yuliani, MT

Dr. Yuliani dan tim penelitinya saat ini tengah meneliti tongkol jagung dan jerami padi untuk dibuat menjadi degradable plastic untuk bahan kemasan. Ke depan, tengah dikembangkan teknologi nano smart packaging yang melibatkan komponen IT yaitu barcode kemasan makanan. Tak hanya menyajikan tanggal kadarluarsa produk, tapi juga dapat mendeteksi bakteri Salmonella yang muncul jika sudah mendekati tanggal kadarluarsa.

Pada umumnya trend penelitian nano untuk pangan dan pertanian yang dilakukan di Indonesia dan negara-negara lain memiliki kesamaan dalam arah dan fokusnya. Pada masa kini lebih banyak pada aspek pangan fungsional. Ada juga yang mengarah pada pengobatan dan kemasan (active and smart packaging). Sementara teknologi nano di bidang pertanian secara umum lebif fokus adalah untuk pupuk dan pestisida.

Saat ini sudah dihasilkan belasan produk yang siap dikerjasamakan pengembangan produknya dengan dunia industri antara lain enkapsulasi nitrogen (digunakan dalam pupuk). Selama ini, pupuk yang diaplikasikan di lapang terlalu banyak, kurang efektif dan efisien. Sedangkan yang diserap tanaman sedikit karena berbagai faktor antara lain terbawa oleh air. Dengan teknologi nano pupuk ini menjadi lebih efisien. Produk lain adalah enkapsulasi herbal, enkapsulasi pigmen, enkapsulasi nanoekstrak manggis, nano enkapsulasi minyak biji pala (anti-biotik, pengawet minuman), nanovitamin zat besi, dan sebagainya. Ada pula edible film yang menggunakan nano selulosa berbahan mangga.


Hasil penelitian nanovitamin A juga telah dipresentasikan dalam seminar internasional Surface Design and Engineering di Madrid, Spanyol pada Juni 2014. Presentasi tersebut bertajuk “Fabrication of Vitamin A-Loaded Nanoemulsion: Factors Affecting Particle Size and Stability”. Dr. Hoerudin yang kala itu menjadi presenter menjelaskan bahwa vitamin ini juga sudah coba terapkan di minuman susu.

Ada beberapa produk final hasil litbang nano yang siap dikembangkan dan diproduksi oleh mitra industri. Misalnya, sereal rasa coklat yang dibuat dari ubi kayu. Plastik dari bawang putih, yang anti-mikrobanya tinggi sehingga pangan bisa dikemas lebih tahan lama. Peneliti nano teknologi lainnya yaitu Dr.Hoerudin dan tim penelitinya pernah menggondol juara 2 di Asia Nanotech Camp 2013 dengan produk Green Packaging, yaitu pemanfaatan serat nanoselulosa untuk produk ramah lingkungan. Salah satunya dengan memanfaatkan limbah jagung untuk biofoam pengganti styrofoam.


LINK-LINK

VISITOR COUNTER
Online : 1 User
Total Hits : 63318 Hits
Hari Ini : 29
Kemarin : 158
Bulan Ini : 3466
Tahun Ini : 38914
Total : 58720