Untitled Document
Indonesia Bisa Unggul dalam Nanoteknologi Pangan

Sumber: Majalah Sains Indonesia Juli 2014 Edisi Khusus 40 Tahun Balitbangtan

Download Artikel

Negara-negara maju terus berlomba menciptakan inovasi berbasis nanoteknologi. Jepang misalnya, kini telah menghasilkan berbagai produk elektronik dengan sentuhan nanoteknologi. Di bidang farmasi dan kosmetik, beberapa negara Eropa mulai banyak menerapkan nanoteknologi. Pada 2010, peneliti Indonesia juga berhasil menciptakan inovasi nanoteknologi di bidang pangan. Dr Sri Yuliani, peneliti di Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian (BB Pascapanen) Badan Litbang Pertanian adalah salah satu peneliti produk nanoteknologi bidang pangan di Indonesia.

Beberapa karyanya telah dipatenkan dan diakui pemerintah sebagai karya unggulan dan mendapat penghargaan di ajang Hari Kebangkitan Teknologi Nasional. Produk-produk hasil terapan nanoteknologi bidang pangan fungsional sudah dihasilkan. Produk tersebut, antara lain daun gambir untuk antioksidan, ekstrak temulawak, ekstrak pala, lemak cokelat untuk meningkatkan serat fungsional, serta peningkatan vitamin dan zat besi pada ubi kayu.

“Indonesia mempunyai keunggulan di bidang pangan, karena kita memiliki sumber daya pangan lokal yang beraneka macam. Kalau nanotek bidang lain, seperti farmasi dan IT, kita memang tertinggal dengan negara lain. Untuk pangan, sesungguhnya kita bisa leading, karena kekayaan sumber daya alam Indonesia jauh lebih melimpah dibanding negara lain,” kata Dr.SriYuliani. Kepala BB Pascapanen Ir.Rudy Tjahjohutomo,MT mengatakan riset pengembangan nanoteknologi bidang pangan di Indonesia dimulai pada 2007. Hingga 2009, karena dukungan anggaran dan peralatan laboratorium minim, penelitian nanoteknologi masih dilakukan dalam skala mikro. Pada akhir 2010, mulai ada titik terang. Beberapa produk nanoteknologi bidang pangan diuji coba melalui beberapa tahap pengujian.

Hasilnya, memuaskan. “Sehingga, sudah ada pihakswasta yang bersedia membeli produk nanoteknologi karya peneliti BB Pascapanen untuk digunakan dalam skala industri,” kata Rudy. Saat ini produk nanoteknologi bidang pangan telah teruji aman, dari aspek kesehatan dan ramah lingkungan, misalnya pewarna dan pengawet untuk buah-buahan dan sayuran segar. “Ini karena tuntutan pasar, masyarakat cenderung lebih memilih buah dan sayuran yang terlihat segar dan sedap dipandang mata. Padahal yang terlihat itu belum tentu sehat dan aman bila kita konsumsi, karena buah dan sayuranyang terlihat segar itu sudah diberi pengawet dan pewarna buatan agar terlihat lebih menarik,” kata Sri Yuliani. Seiring tuntutan tersebut, menurut Sri, peneliti-peneliti di BB Pascapanen terpacu menciptakan produk nanoteknologi bidang pangan yang aman bagi kesehatan dan ramah lingkungan. “Jadi, masyarakat tidak perlu khawatir meskipun buah dan sayuran diberi pengawet atau pewarna buatan, tetap aman dikonsumsikarena kita menggunakan bahan alami atau non kimia. Dengan nanoteknologi kita bisa menghasilkan pewarna dan pengawet untuk buah atau sayuran, yang terjamin aman,” katanya.

Tahun 2014 menjadi awal pengembangan nanoteknologi dalam skala industri (komersial) di Indonesia. Produk-produk nanoteknologi yang dihasilkan para peneliti tidak lagi sekadar menjadi pajangan di kantor BB Pascapanen, tetapi dapat dikembangkan dan dipasarkan. “Ini karena laboratorium yang sudah lama kami impikan, akhirnya selesai dibangun dan siap digunakan untuk menunjang riset dan pengembangan nanoteknologi,” kata Rudy . Komisi Inovasi Nasional (KIN) dalam rapat Maret 2014, sepakat menunjuk laboratorium di BB Pascapanen tersebut sebagai Pusat Nanoteknologi Pangan danPertanian. PusatNanotek yangakan dimanfaatkan khususuntuk riset bidangpangan dan pertanian itumerupakan pusat nanoteknologipertama danterlengkap di Indonesia.

Tentu ini sebanding denganinvestasi yang digelontorkanuntuk membangunPusatNanotec, tersebutyangmencapai Rp 65 miliar.Rudy mengatakan, investasitersebut, termasukpengadaan peralatan risetdengan harga termurahRp 650 juta dan yang termahalRp 9 miliar, dipastikandapat kembali dalamkurun dua tahun. “Sebab,dengan peralatan yangserba canggih ini kita bisamenghasilkan inovasi nanoteknologipangan danpertanian sampai ke tahapstabil atau siap dipasarkansecara komersial,” tandasnya.Kepala Badan Litbang Pertanian Dr Haryonomengatakan prospek pengembangannano-teknologi pangan dan pertanian di Indonesiasangat menjanjikan dengan peluangreturn of investment mencapai 5-6 kali lipat.

Apalagi, ditunjang dengan Nanotec terlengkap,Balitbang Pertanian berharap akan lebihbanyak pihak swasta yang berkiprah di industrinanoteknologi sehingga keuntungan ekonomiyang diperhitungkan benar-benar tercapai.Nanoteknologi merupakan teknologitingkat tinggi yang akan terus berkembang.Teknologi yang menghasilkan produk skalananometer atau sepersemiliar meter ini diyakinimemiliki sifat fisika dan kimia yang lebihunggul ketimbang material ukuran besar. Ditengah ancaman krisis pangan di masa depankarena ketersediaan sumber pangan diperkirakantidak cukup untuk memenuhi kebutuhanseluruh penduduk bumi, nanoteknologi adalahpilihan yang tepat. Para ilmuwan dunia telahmemanfaatkan nanoteknologi pangan untuktahap pengolahan produk pangan, pemantauankualitas pangan, serta produk kemasan pangan.Pasar nanoteknologi pangan di dunia, diperkirakanmencapai US$ 45 miliar tahun ini. Salah satu produk nanoteknologi pangan yang sangat bermanfaat, yakni kemasan pintar.

Kemasan pangan ini mampu mengoptimalkan masa kadaluwarsa produk, memperbaiki sendiri kerusakan kemasan, dan mampu menyesuaikan dengan kondisi lingkungan. Kemasan canggih ini mampu memberi tanda yang dapat diketahui konsumen, bila produk pangan terkontaminasi. “Produk nanoteknologi seperti ini tentu sangat sesuai dengan tuntutan konsumen, misalnya yang ingin membeli buah dan sayur segar, berkualitas, dan aman dari aspek kesehatan,” kata Rudy.


LINK-LINK

VISITOR COUNTER
Online : 1 User
Total Hits : 59214 Hits
Hari Ini : 125
Kemarin : 145
Bulan Ini : 4773
Tahun Ini : 35037
Total : 54843